Pengertian Tashrif | Shorof Praktis

PENGERTIAN TASHRIF

Assalamu'alaikum wr. wb.
Apa kabar para pembaca yang budiman?, Saya doakan semoga senantiasa berada dalam naungan Rahmat dan maghfirah-Nya
Tashrif Adalah
Tashif,- atau shorof adalah di antara pembelajaran Bahasa Arab, ada bagain yang khusus mempelajari fiil (Kata Kerja), yang dikenal dengan istilah قَوَاعِدُ الْبِنْيَةِ atau الصرف / التصريف. Pembelajaran ini penting, sebab sangat berpengaruh untuk memahami suatu teks / obrolan. Umpamanya, kita mengatakan: ضَرَبَ dengan maksud menyuruh orang lain untuk memukul, maka orang lain yang mendengar pasti tidak akan merasa bahwa dia disuruh oleh kita. Tapi kalau kita mengatakan اِضْرِبْ, maka pastilah orang yang mendengar akan mengerti bahwa kita menyuruhnya untuk memukul.
Maka, pengertian التصريف menurut bahasa adalah التَّغْيِيْرُ (perubahan). Sedangkan menurut Istilah Sharaf ialah:
تَحْوِيْلُ الْأَصْلِ الْوَاحِدِ إلَى أَمْثِلَةٍ مُخْتَلِفَةٍ لِمَعَانٍ مَقْصُوْدَةٍ لاَ تَحْصِلُ إلاَّ بِهَا
Perubahan satu bentuk asal menjadi beberapa bentuk yang berbeda demi mencapai makna yang diinginkan yang tidak akan bisa diraih kecuali dengan melakukan perubahan itu.
Contohnya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. 
Contoh lain: dalam ayat al-Qur'an, ada ayat:
إنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
dan ayat:
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ
Kata أنْزَلَ dan kata نَزَّلَ itu keduanya berasal dari satu pengambilan; نَزَلَ yang artinya turun. Lalu dimasukkan pada wazan أَفْعَلَ, menjadi أَنْزَلَ (menurunkan secara sekaligus), dan dimasukkan pada wazan فَعَّلَ menjadi نَزَّلَ (menurunkan secara berangsur). Nah, kita akan sulit memahaminya jika kita tidak mempelajarai التَّصْرِيْفُ / الصَّرْفُ. 
Jadi, shorof/tashrif ini sangat penting untuk memahami teks/obrolan terutama yang berkaitan dengan bentuk fiil yang digunakan, jika tidak, dikhawatirkan menyebabkan salah memahami suatu obrolan/teks, terutama teks al-Qur'an dan Hadits yang mana keduanya merupakan landasan hukum paling utama dalam agama islam.
Sebagian ulama mengatakan:
اَلصَّرْفُ أُمُّ الْعُلُوْمِ وَ النَّحْوُ أَبُوْهَا
"Ilmu Shorof adalah induk Ilmu sedangkan Ilmu Nahwu adalah bapaknya"
Sekian pembahasan tentang tashrif. Semoga menambah wawasan kita tentang Bahasa Arab. 
Mohon maaf atas segala kekurangan
terima kasih telah berkunjung
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Read More

Macam-Macam Fi'il & Tashrif Lughowi | Nahwu Praktis

FIIL, PEMBAGIAN DAN TASHRIFAN LUGHOWINYA

Assalamu'alaikum wr. wb.
Bagaimana kabarnya hari ini?
Saya do'akan semoga senantiasa berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa dan hari-harinya penuh dengan keceriaan serta keberkahan
Macam-Macam Fi'il & Tashrif Lughowi
Pembagian Fiil,- Sebagaimana yang tampak dalam gambar, bahwa fiil terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan kategorinya masing-masing. Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang fi'il beserta trik untuk menguasainya, silahkan mengunjungi: Wazan Fi'il Tsulatsi Mujarrod dan Tsulatsi Maziid Fiih.
Adapun dalam postingan ini, saya hanya akan membahas tentang 3 macam fiil; fiil madli, mudlore' i dan fiil amar dan tashrifan lughowinya.
Baiklah, kita mulai!

Penjelasan tentang fiil madli, mudlore dan amar

* Fiil Madli. Ialah Fiil yang menunjukkan bahwa pekerjaan itu dilakukan dalam waktu lampau (Past tense). Hukum fi'il ini adalah mabniy. Lihat pembahasan tentang Pengertian I'rob, Pembagian dan Tandanya. Contoh: ضَرَبَ، كَرُمَ، حَسِبَ dan lain-lain
* Fiil Mudlore. Ialah fiil yang menunjukkan bahwa pekerjaan itu sedang (haal / Present Tense) atau akan dilakukan (mustaqbal / Future Tense). Inilah satu-satunya fi'il yang dihukumi mu'rob (ber-i'rob) dan i'rob asalnya adalah rofa' selama dia tidak dimasukki amil nawaasib dan amil jawaazim. Contoh: يَضْرِبُ، يَكْرُمُ، يَحْسِبُ. 
Membentuk fiil mudlore, adalah dengan menambahkan huruf kemudlorian di awal fiil madli. huruf kemudlorian itu adalah: ي، ت، أ dan ن. Untuk harkat huruf kemudlorian, Jika 4 huruf fiil madlinya, maka huruf kemudloriannya berharkat dlommah. Selain yang 4 huruf (3, 5 atau 6), maka huruf kemudloriannya berharkat fathah.
* Fiil Amar. Adalah kata kerja bentuk perintah. Trik Amar bisshighah saya bahas khusus. jika ingin mengetahui, silakan baca: Cara membuat fiil amar. Hukum fiil ini adalah mabniy jazm (Selamanya beri'rob jazm). 

Pola Tashrifan Lughowi Fi'il Madli dan Mudlore

Berikut ini adalah pola untuk mentashrif lughowi fiil madli dan mudlore:
Macam-Macam Fi'il & Tashrif Lughowi
Jadi, jika kita ingin mentashrif kata أَكْرَمَ يُكْرِمُ dengan tashrif lughowi, menjadi sebagai berikut:
Macam-Macam Fi'il & Tashrif Lughowi

Pola Tashrifan Lughowi Fi'il ِAmar

Fiil amar ada 2 macam:
1. Amar bisshighah. Fiil amar yang memang menggunakan shigat amar itu sendiri. Fungsi fiil amar bissighah ini untuk menyuruh orang yang diajak bicara (kata ganti orang kedua) dari dlomir أَنْتَ - أَنْتُنَّ
2. Amar bil adawah. Fiil yang pembuatannya dengan menggunakan bantuan huruf lam  yang khusus digunakan untuk itu yang disebut lam amar. Ini terdapat dalam Pembahasan tentang amil jawaazimFungsi amar bil adawah ini untuk menyuruh orang yang tidak ada di depan mata (kata ganti orang ketiga) dari dlomir هُوَ - هُنَّ ataupun menyuruh orang yang dibicarakan. Contoh: لِيَضْرِبْ زَيْدٌ عَمْرًا
Tashrifan lughowinya sebagai berikut:
Macam-Macam Fi'il & Tashrif Lughowi

Demikianlah uraian tentang fiil dan macam-macamnya. Semoga menambah pengetahuan kita tentang Bahasa Arab. Mohon maaf atas kekurangannya. Jika ada hal-hal yang berupa pertanyaan, saran dan pesan untuk blog ini, para pembaca bisa berkomentar pada kolom komentar.
Terima kasih atas kunjungan Anda
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Read More

Pembahasan Singkat Fiil Rubai | Shorof Praktis

WAZAN FI'IL RUBA'I

Assalamu'alaikum wr. wb.
Semoga kita semua senatiasa berada dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa. 
Sebelum kita membahas wazan-wazan fiil ruba'i secara praktis dalam shorof, ada hal yang harus diingat, bahwa fi'il ruba'i ini penggunaannya jarang sekali dan wazannya pun hanya satu serta kebanyakan berupa fiil lazim. Perhatikan gambar berikut:
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
Wazan Fiil Ruba'i,- Adapun pola standar/wazan tashrifan ruba'i mujarrod secara istilahiy adalah sebagai berikut:
Wazan asli/asal ialah berwazan فَعْلَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
 Mulhaq-Mulhaqnya berjumlah 9 wazan, sebagai berikut:
  • Wazan فَوْعَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan فَيْعَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  •  Wazan فَعْوَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  •  Wazan فَعْيَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  •  Wazan فَعْلَى
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  •  Wazan فَعْنَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
Adapun yang fiil ruba'i maziid fiih ada dua wazan; تَفَعْلَلَ dan اِفْعَنْلَلَ
- Wazan تَفَعْلَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
Mulhaq-mulhaqnya berjumlah 5 wazan:
  • Wazan تَفَوْعَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan تَمَفْعَلَ

Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan تَفَيْعَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan تَفَعْوَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan تَفَعْيَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya

- Wazan اِفْعَنْلَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya

Mulhaqnya ada dua wazan: 
  • Wazan اِفْعَنْلَى
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan اِفْعَلَلَّ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
Saya kira postingan ini cukup sekian. Semoga menambah wawasan kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangan. Jika dirasa perlu berkomentar, saya akan sangat merasa senang. Terlebih jika komentar untuk perbaikan kita semua
Terima kasih atas kunjungan Anda
Wazzalamu'alaikum wr. wb.
Read More

Sejarah Singkat Ilmu Nahwu

SEJARAH ILMU NAHWU

Assalamu'alaikum wr. wb. 
Apa kabarnya hari ini?
Saya do'akan semoga semuanya senantiasa berada dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan hari-harinya penuh dengan keceriaan....
Sejarah Singkat Ilmu Nahwu

Sejarah Singkat Ilmu Nahwu,- Sebagaimana yang diceritakan oleh Al-Mubarrad: Al-Mazini berkata kepadaku: Ilmu Nahwu berawal ketika Abul Aswad Ad-Duwali datang kerumah putrinya di Bashrah. Pada saat itu puterinya mengatakan يَا أَبَتِ مَا اَشَدُّ الْحَرِّ, dengan membaca Rofa’ pada lafadz اَشَدُّ dan membaca jar pada lafazh الْحَرّ , yang secara kaidah yang benar مَا nya dianggap sebagai Istifham (kata tanya) yang artinya: “Wahai Ayahku! Kenapa sangat panas? Spontan saja Abul Aswad menjawap شَهْرُنَا هَذَا (memang sedang musim panas). 
Mendengar jawapan Ayahnya, puterinya langsung berkata: “Wahai Ayah, saya tidak bertanya tentang panasnya musim ini, tetapi saya memberitahumu atas bahwa sangat panas musim ini (yang seharusnya menggunakan Ta’ajub/kekaguman diucapkan مَا اَشَدَّ الْحَرَّ , dengan membaca nashab pada اَشَدَّ karena menjadi fi'il madli/kata kerja bentuk lampau, dan kata الْحَرَّ pun dibaca fathah/nashab karena sebagai maf'ul bih/objek ). 
Sejak peristiwa itu, Abul Aswad datang kepada Amirul Mu’minin Khalifah Sayyidina ‘Ali, sambil berkata “Wahai Amirul Mukminin, bahasa kita telah bercampur dengan yang lain”, sambil menceritakan kejadian antara dia dan puterinya, maka berilah saya petunjuk. Kemudian Amirul Mu’minin membacakan:
اَلْكَلاَمُ كُلُّهُ لاَيَخْرُجُ عَنِ اسْمٍ وَفِعْلٍ وَحَرْفٍ. انحُ عَلَى هَذَا النَّحْوِ
“Kalam itu tidak boleh lepas dari kalimat Isim (Nomina/Kata Benda), Fi’il (Verba/Kata Kerja), dan Huruf (Preposisi/Kata Depan). Maka buatlah sesuai pola ini”.
Kisah lainnya, suatu hari Abul Aswad ad-Duwali melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar sang qari membaca surat at-Taubah ayat 3 dengan ucapan, (أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهُ), dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi yang seharusnya dhommah. Artinya “…Sesungguhnya Allah terlepas dari orang-orang musyrik dan rasulnya...” Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan. Seharusnya ayat tersebut adalah, (أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُوْلُهُ) “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya terlepas dari orang-orang musyrik.”
Karena mendengar ini, Abul Aswad ad-Duwali menjadi khawatir keindahan Bahasa Arab rusak dan kehebatannya menjadi hilang, padahal peristiwa ini terjadi di awal Daulah Islam. Kemudian hal ini disadari oleh khalifah Ali Bin Abi Thalib, sehingga beliau memperbaiki keadaan ini dengan membuat pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idhofah (gabungan kata), kalimat ta’ajjub (ungkapan kekaguman), Istifham (kata tanya) dan selainnya, kemudian Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abul Aswad ad-Duwali, (اُنْحُ هَذَا النَّحْوَ) “buatlah seperti pola ini”. Dari kalimat inilah, ilmu Tata Bahasa Arab disebut dengan ilmu nahwu.
Kemudian Abul Aswad ad-Duwali melaksanakan perintah Amiirul Mukminiin dan menambah kaidah tersebut dengan bab yang lainnya. Dialah pula orang yang pertama kali meletakkan tanda baca (titik dll) pada huruf. Kemudian, dari Abul Aswad ad-Duwali inilah muncul ulama-ulama Bahasa Arab lainnya, seperti Abu Amru bin ‘alaai, kemudian al-Khalil al-Farahidi al-Bashri (pencetus ilmu ‘Arudl dan penulis Mu’jam/Kamus pertama), sampai ke Sibawaih dan Kisa'i.
Al-Jahizh menyebutkan: “Abu Al-Aswad adalah tokoh dalam tingkat sosial manusia. Dia merupakan sebagian kalangan ahli fiqih, penyair, ahli hadits, orang mulia, kesatria berkuda, pemimpin, orang cerdas, ahli nahwu, pendukung Ali, sekaligus orang bakhil. Dia botak bagian depan kepalanya.”
Penemu Ilmu Nahwu
Mengenai tokoh yang disebut sebagai pencetus Ilmu Nahwu, ada perbedaan pendapat. Sebagian ahli mengatakan: peletak dasar Ilmu Nahwu adalah Abul Aswad ad-Duwali. Sebagian yang lain mengatakan, Nashr bin 'Ashim. Ada juga yang mengatakan, Abdurrahman bin Hurmus. Namun, dari perbedaan-perbedaan itu pendapat yang paling diakui oleh mayoritas ahli sejarah adalah Abul Aswad. Pendukung pendapat ini antara lain Ibnu Qutaibah (wafat 272 H), al-Mubarrad (wafat 285 H), as-Sairafi (wafat 368 H), Ar-Raghib al-Ashfahaniy (502 H), dan as-Suyuthi (wafat 911 H), sedangkan dari golongan ahli nahwu kontemporer antara lain Kamal Ibrahim, Musthofa as-Saqa, dan Ali an-Najdiy Nashif. Penokohan Abul Aswad ini didasarkan atas jasa-jasanya yang fundamental dalam membidani lahirnya Ilmu Nahwu.
Para ulama hampir bersepakat bahwa penyusun ilmu nahwu pertama adalah Abul Aswad ad-Duwali (67 H) dari Bani Kinaanah atas dasar perintah Amirul Mu’minin Khalifah ‘Ali Rhadiyallahu ‘anhu.
Demikianlah sejarah singkat ilmu nahwu. mohon maaf atas segala kekurangan. 
Terima kasih atas kunjungan Anda
جَزَاكم الله أحسن الجزاء
Read More

Apa Makna Wazan Tsulasi Mazid? | Shorof Praktis

MAKNA WAZAN TSULASI MAZID FIH

Assalamu'alaikum wr. wb.
Apa kabar pembaca yang budiman?, semoga senantiasa dilindungi Allah SWT....
Apa Makna Wazan Tsulasi Mazid?

Makna Sulasi Maziid,- Pada tulisan kali ini, kita akan membahas tentang makna-makna wazan tsulatsiy maziid fiih dalam shorof. Saya sendiri pada awalnya bertanya-tanya tentang apa sebenarnya fungsi wazan-wazan tsulatsi maziid fiih ini?, kenapa mesti banyak sekali polanya?, kenapa tidak dibikin praktis aja?
Perlu diingat, makna ini sangat terpengaruhi oleh konteks kalimatnya. Maksudnya, mungkin saja arti/makna suatu kata berubah dari makna asal karena dipengaruhi konteks kalimatnya. Sebagai contoh bahwa suatu fiil berubah makna karena dipengaruhi konteks kalimatnya:
Kata ضَرَبَ kita tahu, artinya adalah memukul, tapi dalam ayat al-Qur'an terdapat kalimat ini:
ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً رَجُلَيْنِ....
kata ضَرَبَ dalam kalimat tersebut artinya bukanlah memukul,  tapi membuat.
Demikian pula halnya dengan fi'il-fi'il yang ditambahkan hurufnya atau tsulatsi maziid fiih. untuk lebih jelasnya, langsung saja kita bahas tentang makna-makna wazan tsulatsiy maziid fiih. Sebagai berikut:

Beberapa Makna Wazan Tsulasi Maziid Fiih:

Wazan أفْعَلَ

- لِلتَّعْدِيَّةِ (merubah fi'il lazim menjadi muta'adi). Contoh: كَرُمَ زَيْدٌ (zaed mulya) 
menjadi أكْرَمَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaed me-mulya-kan Amr)
- لِلدُّخُوْلِ فِيْ شَيئٍ (memasuki sesuatu). Contoh: أَمْسَى الْمُسَافِرُ (musafir memasuki waktu petang)
- لِلصَّيْرُوْرَةِ (menjadi sesuatu). Contoh: أَقْفَرَ الْبَلَدُ (negeri itu menjadi tandus)

Wazan فَعَّلَ

- لِلتَّعْدِيَّةِ (merubah fi'il lazim menjadi muta'adi). Contoh: فَرِحَ زَيْدٌ (zaed bahagia) menjadi فَرَّحَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaed mem-bahagia-kan Amr)
-لِلدِّلاَلَةِ عَلَى التَّكْثِيْرِ (menunjukkan arti banyak). Contoh: قَطَّعَ زَيْدٌ الْحَبْلَ (zaed memotong-motong tali) 
- لِلنِّسْبَةِ الْمَفْعُوْلِ إلَى أصْلِ الْفِعْلِ (menyandangkan maf'ul pada asal fi'il). Contoh: كَفَّرَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaed meng-kafirkan amr)

Wazan فَاعَلَ

- لِلْمُشَارَكَةِ بَيْنَ اثْنَيْنِ (saling melakukan antara dua orang / saling). Contoh: ضَارَبَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaed dan Amr saling memukul)
- لِلدِّلاَلَةِ عَلَى التَّكْثِيْرِ (menunjukkan arti banyak). Contoh: ضَاعَفَ اللهُ ثَوَابًا  (Alloh melipatgandakan pahala)
- لِلتَّعْدِيَّةِ (merubah fi'il lazim menjadi muta'adi). Contoh: عَافَاكَ اللهُ (semoga Alloh mensejahterakanmu)

Wazan تَفَعَّلَ

- لِمُطَاوَعَةِ فَعَّلَ (akibat / reaksi dari wazan فَعَّلَ). Contoh: كَسَّرْتُ الزُّجَاجَ فَـتَكَسَّرَ  (aku memecahkan kaca, maka pecahlah kaca itu)
- لِلتَّكَلُّفِ (memaksakan diri). Contoh: تَشَجَّعَ زَيْدٌ  (Zaed memberanikan diri)
- لِلطَّلَبِ (tuntutan). Contoh: تَبَيَّنَ زَيْدٌ الشَّيْئَ (Zaed mencari penjelasan tentang sesuatu)

Wazan تَفَاعَلَ

- لِلْمُشَارَكَةِ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَأَكْثَرَ (saling melakukan antara dua orang atau lebih). Contoh: تَصَالَحَ الْقَوْمُ  (kaum itu saling berdamai)
- لِإِظْهَارِ مَا لَيْسَ فِي الْوُقُوْعِ (berpura-pura). Contoh: تَمَارَضَ زَيْدٌ  (Zaed berpura-pura sakit)
- لِلْوًقُوْعِ تَدْرِيْجًا (kejadian yang beruntun). Contoh: تَوَارَدَ الْقَوْمُ (kaum itu saling berdatangan)

Wazan اِفْتَعَلَ

- لِمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (akibat / hasil dari waan فَعَلَ). Contoh: جَمَعْتُ الْاِبِلَ فَـاجْتَمَعَ  (aku mengumpulkan unta, maka berkumpul)
- لِلْإتِّخَادِ (mengambil). Contoh: اِحْتَبَزَ زَيْدٌ  (Zaed mengambil roti)
- لِزِيَادَةِ الْمُبَالَغَةِ فِي الْمَعْنَى  (mengesankan makna 'sangat'). Contoh: اِكْتَسَبَ زَيْدُ (Zaed berusaha (dengan sungguh-sungguh))

Wazan اِنْفَعَلَ

- لِمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (akibat / hasil dari wazan فَعَلَ). Contoh: قَطَعْتُ الْحَبْلَ فَـانْقَطَعَ  (aku memutuskan tali, maka terputuslah)
- لِمُطَاوَعَةِأَفْعَلَ (akibat / hasil dari wazan أَفْعَلَ). Contoh: أَزْعَجْتُهُ  فَـانْزَعَجَ  (aku membuatnya bingung, maka dia menjadi bingung)

Wazan اِفْعَلَّ

-  لِلدِّلاَلَةِ عَلَى الدُّخُوْلِ فِي الصِّفَةِ (menunjukkan arti masuk dalam satu sifat). Contoh: اِحْمَرَّ التَّمْرُ  (kurma itu memerah)

Wazan اِسْتَفْعَلَ

-  لِطَلَبِ الْفِعْلِ (menuntut suatu pekerjaan). Contoh: أَسْتَغْفِرُ اللهَ  (saya meminta ampun pada Alloh)
- لِمَعْنَى فَعَلَ الْمُجَرَّدِ (menunjukkan makna فَعَلَ yang mujarrod). Contoh: اِسْتَقَرَّ (قَرَّ) زَيْدٌ  (Zaed menetap)
-  لِلتَّحَوُّلُ (berubah menjadi). Contoh: اِسْتَحْجَرَ الطِّيْنُ  (tanah itu berubah menjadi batu)

Wazan اِفْعَوْعَلَ

-  لِلْمُبَالَغَةِ (menyangatkan / hiperbola). Contoh: اِحْدَوْدَبَ زَيْدٌ  (Zaed menjadi sangat bungkuk)
- لِمَعْنَى فَعَلَ الْمُجَرَّدِ (menunjukkan makna فَعَلَ yang mujarrod). Contoh: اِحْلَوْلَى التَّمْرُ  (kurma itu manis)

Wazan اِفْعَالَّ

-  لِلْمُبَالَغَةِ (menyangatkan / hiperbola). Contoh: اِصْفَارَّ الْمَوْزُ  (pisang telah sangat menguning)

Wazan اِفْعَوَّلَ

-  لِلْمُبَالَغَةِ (menyangatkan / hiperbola). Contoh: اِخْرَوَّطَ شُعَاءُ الشَّمْسِ  (sinar matahari itu sangat terang)
Demikian pembahasan sederhana tentang makna-makna wazan fiil tsulatsiy maziid fiih. Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas kekurangan
Terima kasih....
Wassalamu'alaikum wr. wb. 
Read More