Pembahasan Singkat Fiil Rubai | Shorof Praktis

WAZAN FI'IL RUBA'I

Assalamu'alaikum wr. wb.
Semoga kita semua senatiasa berada dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa. 
Sebelum kita membahas wazan-wazan fiil ruba'i secara praktis dalam shorof, ada hal yang harus diingat, bahwa fi'il ruba'i ini penggunaannya jarang sekali dan wazannya pun hanya satu serta kebanyakan berupa fiil lazim. Perhatikan gambar berikut:
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
Wazan Fiil Ruba'i,- Adapun pola standar/wazan tashrifan ruba'i mujarrod secara istilahiy adalah sebagai berikut:
Wazan asli/asal ialah berwazan فَعْلَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
 Mulhaq-Mulhaqnya berjumlah 9 wazan, sebagai berikut:
  • Wazan فَوْعَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan فَيْعَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  •  Wazan فَعْوَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  •  Wazan فَعْيَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  •  Wazan فَعْلَى
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  •  Wazan فَعْنَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
Adapun yang fiil ruba'i maziid fiih ada dua wazan; تَفَعْلَلَ dan اِفْعَنْلَلَ
- Wazan تَفَعْلَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
Mulhaq-mulhaqnya berjumlah 5 wazan:
  • Wazan تَفَوْعَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan تَمَفْعَلَ

Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan تَفَيْعَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan تَفَعْوَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan تَفَعْيَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya

- Wazan اِفْعَنْلَلَ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya

Mulhaqnya ada dua wazan: 
  • Wazan اِفْعَنْلَى
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
  • Wazan اِفْعَلَلَّ
Pembahasan Singkat Fiil Rubai & Mulhaqnya
Saya kira postingan ini cukup sekian. Semoga menambah wawasan kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangan. Jika dirasa perlu berkomentar, saya akan sangat merasa senang. Terlebih jika komentar untuk perbaikan kita semua
Terima kasih atas kunjungan Anda
Wazzalamu'alaikum wr. wb.
Read More

Sejarah Singkat Ilmu Nahwu

SEJARAH ILMU NAHWU

Assalamu'alaikum wr. wb. 
Apa kabarnya hari ini?
Saya do'akan semoga semuanya senantiasa berada dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan hari-harinya penuh dengan keceriaan....
Sejarah Singkat Ilmu Nahwu

Sejarah Singkat Ilmu Nahwu,- Sebagaimana yang diceritakan oleh Al-Mubarrad: Al-Mazini berkata kepadaku: Ilmu Nahwu berawal ketika Abul Aswad Ad-Duwali datang kerumah putrinya di Bashrah. Pada saat itu puterinya mengatakan يَا أَبَتِ مَا اَشَدُّ الْحَرِّ, dengan membaca Rofa’ pada lafadz اَشَدُّ dan membaca jar pada lafazh الْحَرّ , yang secara kaidah yang benar مَا nya dianggap sebagai Istifham (kata tanya) yang artinya: “Wahai Ayahku! Kenapa sangat panas? Spontan saja Abul Aswad menjawap شَهْرُنَا هَذَا (memang sedang musim panas). 
Mendengar jawapan Ayahnya, puterinya langsung berkata: “Wahai Ayah, saya tidak bertanya tentang panasnya musim ini, tetapi saya memberitahumu atas bahwa sangat panas musim ini (yang seharusnya menggunakan Ta’ajub/kekaguman diucapkan مَا اَشَدَّ الْحَرَّ , dengan membaca nashab pada اَشَدَّ karena menjadi fi'il madli/kata kerja bentuk lampau, dan kata الْحَرَّ pun dibaca fathah/nashab karena sebagai maf'ul bih/objek ). 
Sejak peristiwa itu, Abul Aswad datang kepada Amirul Mu’minin Khalifah Sayyidina ‘Ali, sambil berkata “Wahai Amirul Mukminin, bahasa kita telah bercampur dengan yang lain”, sambil menceritakan kejadian antara dia dan puterinya, maka berilah saya petunjuk. Kemudian Amirul Mu’minin membacakan:
اَلْكَلاَمُ كُلُّهُ لاَيَخْرُجُ عَنِ اسْمٍ وَفِعْلٍ وَحَرْفٍ. انحُ عَلَى هَذَا النَّحْوِ
“Kalam itu tidak boleh lepas dari kalimat Isim (Nomina/Kata Benda), Fi’il (Verba/Kata Kerja), dan Huruf (Preposisi/Kata Depan). Maka buatlah sesuai pola ini”.
Kisah lainnya, suatu hari Abul Aswad ad-Duwali melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar sang qari membaca surat at-Taubah ayat 3 dengan ucapan, (أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهُ), dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi yang seharusnya dhommah. Artinya “…Sesungguhnya Allah terlepas dari orang-orang musyrik dan rasulnya...” Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan. Seharusnya ayat tersebut adalah, (أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُوْلُهُ) “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya terlepas dari orang-orang musyrik.”
Karena mendengar ini, Abul Aswad ad-Duwali menjadi khawatir keindahan Bahasa Arab rusak dan kehebatannya menjadi hilang, padahal peristiwa ini terjadi di awal Daulah Islam. Kemudian hal ini disadari oleh khalifah Ali Bin Abi Thalib, sehingga beliau memperbaiki keadaan ini dengan membuat pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idhofah (gabungan kata), kalimat ta’ajjub (ungkapan kekaguman), Istifham (kata tanya) dan selainnya, kemudian Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abul Aswad ad-Duwali, (اُنْحُ هَذَا النَّحْوَ) “buatlah seperti pola ini”. Dari kalimat inilah, ilmu Tata Bahasa Arab disebut dengan ilmu nahwu.
Kemudian Abul Aswad ad-Duwali melaksanakan perintah Amiirul Mukminiin dan menambah kaidah tersebut dengan bab yang lainnya. Dialah pula orang yang pertama kali meletakkan tanda baca (titik dll) pada huruf. Kemudian, dari Abul Aswad ad-Duwali inilah muncul ulama-ulama Bahasa Arab lainnya, seperti Abu Amru bin ‘alaai, kemudian al-Khalil al-Farahidi al-Bashri (pencetus ilmu ‘Arudl dan penulis Mu’jam/Kamus pertama), sampai ke Sibawaih dan Kisa'i.
Al-Jahizh menyebutkan: “Abu Al-Aswad adalah tokoh dalam tingkat sosial manusia. Dia merupakan sebagian kalangan ahli fiqih, penyair, ahli hadits, orang mulia, kesatria berkuda, pemimpin, orang cerdas, ahli nahwu, pendukung Ali, sekaligus orang bakhil. Dia botak bagian depan kepalanya.”
Penemu Ilmu Nahwu
Mengenai tokoh yang disebut sebagai pencetus Ilmu Nahwu, ada perbedaan pendapat. Sebagian ahli mengatakan: peletak dasar Ilmu Nahwu adalah Abul Aswad ad-Duwali. Sebagian yang lain mengatakan, Nashr bin 'Ashim. Ada juga yang mengatakan, Abdurrahman bin Hurmus. Namun, dari perbedaan-perbedaan itu pendapat yang paling diakui oleh mayoritas ahli sejarah adalah Abul Aswad. Pendukung pendapat ini antara lain Ibnu Qutaibah (wafat 272 H), al-Mubarrad (wafat 285 H), as-Sairafi (wafat 368 H), Ar-Raghib al-Ashfahaniy (502 H), dan as-Suyuthi (wafat 911 H), sedangkan dari golongan ahli nahwu kontemporer antara lain Kamal Ibrahim, Musthofa as-Saqa, dan Ali an-Najdiy Nashif. Penokohan Abul Aswad ini didasarkan atas jasa-jasanya yang fundamental dalam membidani lahirnya Ilmu Nahwu.
Para ulama hampir bersepakat bahwa penyusun ilmu nahwu pertama adalah Abul Aswad ad-Duwali (67 H) dari Bani Kinaanah atas dasar perintah Amirul Mu’minin Khalifah ‘Ali Rhadiyallahu ‘anhu.
Demikianlah sejarah singkat ilmu nahwu. mohon maaf atas segala kekurangan. 
Terima kasih atas kunjungan Anda
جَزَاكم الله أحسن الجزاء
Read More

Apa Makna Wazan Tsulasi Mazid? | Shorof Praktis

MAKNA WAZAN TSULASI MAZID FIH

Assalamu'alaikum wr. wb.
Apa kabar pembaca yang budiman?, semoga senantiasa dilindungi Allah SWT....
Apa Makna Wazan Tsulasi Mazid?

Makna Sulasi Maziid,- Pada tulisan kali ini, kita akan membahas tentang makna-makna wazan tsulatsiy maziid fiih dalam shorof. Saya sendiri pada awalnya bertanya-tanya tentang apa sebenarnya fungsi wazan-wazan tsulatsi maziid fiih ini?, kenapa mesti banyak sekali polanya?, kenapa tidak dibikin praktis aja?
Perlu diingat, makna ini sangat terpengaruhi oleh konteks kalimatnya. Maksudnya, mungkin saja arti/makna suatu kata berubah dari makna asal karena dipengaruhi konteks kalimatnya. Sebagai contoh bahwa suatu fiil berubah makna karena dipengaruhi konteks kalimatnya:
Kata ضَرَبَ kita tahu, artinya adalah memukul, tapi dalam ayat al-Qur'an terdapat kalimat ini:
ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً رَجُلَيْنِ....
kata ضَرَبَ dalam kalimat tersebut artinya bukanlah memukul,  tapi membuat.
Demikian pula halnya dengan fi'il-fi'il yang ditambahkan hurufnya atau tsulatsi maziid fiih. untuk lebih jelasnya, langsung saja kita bahas tentang makna-makna wazan tsulatsiy maziid fiih. Sebagai berikut:

Beberapa Makna Wazan Tsulasi Maziid Fiih:

Wazan أفْعَلَ

- لِلتَّعْدِيَّةِ (merubah fi'il lazim menjadi muta'adi). Contoh: كَرُمَ زَيْدٌ (zaed mulya) 
menjadi أكْرَمَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaed me-mulya-kan Amr)
- لِلدُّخُوْلِ فِيْ شَيئٍ (memasuki sesuatu). Contoh: أَمْسَى الْمُسَافِرُ (musafir memasuki waktu petang)
- لِلصَّيْرُوْرَةِ (menjadi sesuatu). Contoh: أَقْفَرَ الْبَلَدُ (negeri itu menjadi tandus)

Wazan فَعَّلَ

- لِلتَّعْدِيَّةِ (merubah fi'il lazim menjadi muta'adi). Contoh: فَرِحَ زَيْدٌ (zaed bahagia) menjadi فَرَّحَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaed mem-bahagia-kan Amr)
-لِلدِّلاَلَةِ عَلَى التَّكْثِيْرِ (menunjukkan arti banyak). Contoh: قَطَّعَ زَيْدٌ الْحَبْلَ (zaed memotong-motong tali) 
- لِلنِّسْبَةِ الْمَفْعُوْلِ إلَى أصْلِ الْفِعْلِ (menyandangkan maf'ul pada asal fi'il). Contoh: كَفَّرَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaed meng-kafirkan amr)

Wazan فَاعَلَ

- لِلْمُشَارَكَةِ بَيْنَ اثْنَيْنِ (saling melakukan antara dua orang / saling). Contoh: ضَارَبَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaed dan Amr saling memukul)
- لِلدِّلاَلَةِ عَلَى التَّكْثِيْرِ (menunjukkan arti banyak). Contoh: ضَاعَفَ اللهُ ثَوَابًا  (Alloh melipatgandakan pahala)
- لِلتَّعْدِيَّةِ (merubah fi'il lazim menjadi muta'adi). Contoh: عَافَاكَ اللهُ (semoga Alloh mensejahterakanmu)

Wazan تَفَعَّلَ

- لِمُطَاوَعَةِ فَعَّلَ (akibat / reaksi dari wazan فَعَّلَ). Contoh: كَسَّرْتُ الزُّجَاجَ فَـتَكَسَّرَ  (aku memecahkan kaca, maka pecahlah kaca itu)
- لِلتَّكَلُّفِ (memaksakan diri). Contoh: تَشَجَّعَ زَيْدٌ  (Zaed memberanikan diri)
- لِلطَّلَبِ (tuntutan). Contoh: تَبَيَّنَ زَيْدٌ الشَّيْئَ (Zaed mencari penjelasan tentang sesuatu)

Wazan تَفَاعَلَ

- لِلْمُشَارَكَةِ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَأَكْثَرَ (saling melakukan antara dua orang atau lebih). Contoh: تَصَالَحَ الْقَوْمُ  (kaum itu saling berdamai)
- لِإِظْهَارِ مَا لَيْسَ فِي الْوُقُوْعِ (berpura-pura). Contoh: تَمَارَضَ زَيْدٌ  (Zaed berpura-pura sakit)
- لِلْوًقُوْعِ تَدْرِيْجًا (kejadian yang beruntun). Contoh: تَوَارَدَ الْقَوْمُ (kaum itu saling berdatangan)

Wazan اِفْتَعَلَ

- لِمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (akibat / hasil dari waan فَعَلَ). Contoh: جَمَعْتُ الْاِبِلَ فَـاجْتَمَعَ  (aku mengumpulkan unta, maka berkumpul)
- لِلْإتِّخَادِ (mengambil). Contoh: اِحْتَبَزَ زَيْدٌ  (Zaed mengambil roti)
- لِزِيَادَةِ الْمُبَالَغَةِ فِي الْمَعْنَى  (mengesankan makna 'sangat'). Contoh: اِكْتَسَبَ زَيْدُ (Zaed berusaha (dengan sungguh-sungguh))

Wazan اِنْفَعَلَ

- لِمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (akibat / hasil dari wazan فَعَلَ). Contoh: قَطَعْتُ الْحَبْلَ فَـانْقَطَعَ  (aku memutuskan tali, maka terputuslah)
- لِمُطَاوَعَةِأَفْعَلَ (akibat / hasil dari wazan أَفْعَلَ). Contoh: أَزْعَجْتُهُ  فَـانْزَعَجَ  (aku membuatnya bingung, maka dia menjadi bingung)

Wazan اِفْعَلَّ

-  لِلدِّلاَلَةِ عَلَى الدُّخُوْلِ فِي الصِّفَةِ (menunjukkan arti masuk dalam satu sifat). Contoh: اِحْمَرَّ التَّمْرُ  (kurma itu memerah)

Wazan اِسْتَفْعَلَ

-  لِطَلَبِ الْفِعْلِ (menuntut suatu pekerjaan). Contoh: أَسْتَغْفِرُ اللهَ  (saya meminta ampun pada Alloh)
- لِمَعْنَى فَعَلَ الْمُجَرَّدِ (menunjukkan makna فَعَلَ yang mujarrod). Contoh: اِسْتَقَرَّ (قَرَّ) زَيْدٌ  (Zaed menetap)
-  لِلتَّحَوُّلُ (berubah menjadi). Contoh: اِسْتَحْجَرَ الطِّيْنُ  (tanah itu berubah menjadi batu)

Wazan اِفْعَوْعَلَ

-  لِلْمُبَالَغَةِ (menyangatkan / hiperbola). Contoh: اِحْدَوْدَبَ زَيْدٌ  (Zaed menjadi sangat bungkuk)
- لِمَعْنَى فَعَلَ الْمُجَرَّدِ (menunjukkan makna فَعَلَ yang mujarrod). Contoh: اِحْلَوْلَى التَّمْرُ  (kurma itu manis)

Wazan اِفْعَالَّ

-  لِلْمُبَالَغَةِ (menyangatkan / hiperbola). Contoh: اِصْفَارَّ الْمَوْزُ  (pisang telah sangat menguning)

Wazan اِفْعَوَّلَ

-  لِلْمُبَالَغَةِ (menyangatkan / hiperbola). Contoh: اِخْرَوَّطَ شُعَاءُ الشَّمْسِ  (sinar matahari itu sangat terang)
Demikian pembahasan sederhana tentang makna-makna wazan fiil tsulatsiy maziid fiih. Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas kekurangan
Terima kasih....
Wassalamu'alaikum wr. wb. 
Read More

Pengertian | Pembagian Kalam

KALAM DAN PEMBAGIANNYA


Assalamu'alaikum wr. wb.
Apa kabar pembaca yang budiman?. Saya doakan semoga senantiasa berada dalam lindungan-Nya dan hari-hari Anda penuh dengan keceriaan
Pengertian | Pembagian Kalam

Pembagian Kalam,Seperti yang kita tahu dalam Bahasa Indonesia,  satuan bahasa terkecil dalam bentuk lisan atau tulisan yang berfungsi untuk mengungkapkan fikiran secara total disebut dengan kalimat. 

Kalimat itu terdiri dari: kata + kata + kata ....., dan kata itu sendiri terbagi menjadi: 
1. Kata Benda
2. Kata Kerja
3. Kata Depan
Dalam Bahasa Arab, 'kalimat' disebut dengan istilah كَلاَمٌ, dan 'kata' disebut لفْظٌ/كَلِمَةٌ. Oleh karena itu, pengertian الكَلاَمُ menurut Syaikh Ibnu Ajjurum dalam kitab al-Ajurumiyah adalah:
الَّفْظُ الْـمُرَكَّبُ الْـمُفِيْدٌ بِالْوَضْعِ
"Lafad yang tersusun (dari dua/lebih) yang memberi pengertian sempurna (dapat difahami) sesuai kaidah baku/berlaku" 
jadi, rumus kalam itu:
الكلام: كلمة + كلمة + كلمة....
Demikian pula, pembagian كلمة dalam Bahasa Arab pun terbagi menjadi 3:
- الإسْمُ (kata benda termasuk kata sifat / nomina / noun)
- الْفِعْلُ (kata kerja / verba / verb)
- الْحَرْفُ (kata depan / preposisi / preposition)

Perhatikan bagan pembagian كلمة beserta cirinya berikut:

Pengertian | Pembagian Kalam

Bagan berikut adalah pembagian Isim:

Pengertian | Pembagian Kalam

Pengertian | Pembagian Kalam

Pengertian | Pembagian Kalam
Mengenai pembagian fi'il, dibahas pada babnya 

Adapun mengenai haraf, dalam al-Ajurumiyah tepatnya pada bab kalam, haraf ada dua:

Seperti: مِنْ، إلَى، عَنْ، عَلَى، فِي، رُبَّ، بِــ، كَـــ، لِـــ
Contoh: مِنَ الْمَدْرَسَةِ، إلَى الْمُسْتَشْفَى dan lain-lain
Yaitu: وَ، بَ dan تَ
Contoh: وَاللهِ، بِاللهِ، تَاللهِ
Semuanya berarti: Demi Allah
Contoh lain: 
وَالْفَجْرِ، وَالضُّحَى، وَالْعَصْرِ dan lain-lain
Demikian penjelasan singkat tentang kalam dan pembagiannya sebagai perkenalan. mohon maaf atas segala kekurangannya. Selanjutnya, jika ingin mempelajari Bahasa Arab dengan total kita mesti mengetahui tentang i'rob.
Semoga bermanfaat
Terima Kasih
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Read More

Pengertian dan Contoh Hal dalam AlQuran | Nahwu Praktis

Pengertian Hal, Syarat Hal Dan Contoh Hal Dalam Al-Qur'an

السلام عليكم ورحمة الله
 إنّ الحمد لله على جميع ما أعطاه، والصلاة والسلام على حبيب الله محمد وآله وصحبه، وبعد
Apa yang dimaksud dengan hal?
Apakah ada syarat khusus bagi suatu kata agar sah disebut hal?, dan
Apa contoh hal / contoh kalimat hal dalam al-Qur'an?
Dalam artikel ini, semoga para pembaca bisa mendapatkan jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut. Juga, semoga artikel ini memberikan pemahaman yang mudah bagi Sobat pembaca terutama yang berhubungan dengan hal yang meliputi pengertian hal, syarat hal dan contoh hal dalam al-Qur'an.
Pengertian dan Contoh Hal dalam AlQuran
Pengertian Hal Dan Contoh Hal Dalam Al-Qur'an,- Imam Ash-Shonhaji (Ibnu Ajurruum) memberikan definisi hal dengan kalimat:
الحَالُ هُوَ: الاِسْمُ الْمَنْصُوْبُ الْمُفَسِّرُ لِمَا انْبَهَمَ مِنَ الهَيْئاتِ
"Hal adalah isim nashab yang menjelaskan keadaan yang masih samar"
Sedangkan imam Ibnu Malik dalam al-Fiyyah menyebutkan definisi haal dengan bait:
الحَالُ وَصْفٌ فَضْلَةٌ مُنْتَصِبُ # مُفْهِمٌ فِي حَالٍ كَفَرْدًا أَذْهَ
"Hal adalah sifat tambahan yang beri'rob nashab yang mengesankan suatu kondisi seperti: فَرْدًا أَذْهَبُ"
Untuk memahami kedua definisi tersebut, saya contohkan saja dengan bahasa Indonesia;
Zaed berangkat ke sekolah sambil berkendaraan
Kata sambil berkendaraan, adalah menerangkan keadaan Zaed berangkat. Maka kalimat sambil berkendaraan disebut dengan haal dalam bahasa Arab.  Sekarang, kita terjemahkan contoh tersebut ke dalam bahasa Arab:
ذَهَبَ زَيْدٌ إلَى الْمَدْرَسَةِ رَاكِبًا
Kata راكِبًا adalah isim yang dinashabkan dan menjelaskan suatu keadaan.

Apakah setiap isim nashab seperti itu bisa disebut haal?

Tidak, tapi harus memenuhi beberapa syarat berikut:
  1. Harus beri'rob nashab (seperti dalam contoh)
  2. Harus berupa isim nakiroh (jika hal ternyata berupa isim ma'rifat, harus ditakwil dengan isim nakiroh)
  3. Kebanyakan hal berupa isim musytaq (pengambilan dari fi'il seperti isim fa'il, isim maf'ul mashdar, dan sifat musyabahat). Terkadang pula isim jamid (kebalikan musytaq
  4. Setiap hal mesti ada shohibul hal. Syarat shohibul hal adalah harus ma'rifat
  5. Hal harus sama dengan shohibul hal dalam mudzakkar-muannatsnya dan mufrod, tatsniyah-jama'nya
  6. Tidak boleh membuat hal kecuali setelah kalimat sempurna
Yang dimaksud kalimat sempurna adalah fi'il dengan fa'ilnya, fi'il mabni majhul dengan naibul failnya dan mubtada dengan khobarnya. Inilah yang disebut umdah (primer; yang mesti ada) dalam kalimat. Sedangkan selain keduanya disebut fadlah (sekunder; yang boleh ada atau tidak ada). Fadlah inilah yang dimaksud oleh Imam Ibnu Malik dalam bait tadi (الْحَالُ وَصْفٌ فَضْلَةٌ). 
Sekarang, perhatikan contoh pertama berikut dan kita teliti apakah memenuhi syarat hal atau tidak:
أَشْرَبُ الْمَاءَ جَالِسًا
"Saya sedang meminum air sambil duduk"
Kita perhatikan kata جَالِسًا. Kata tesebut beri'rob nashab, berupa isim nakiroh, merupakan isim musytaq (karena isim fa'il dari kata شَرِبَ يَشْرَبُ), shohibul halnya adalah dlomir mustatir (أَنَا), shohibul hal adalah mufrod-mudzakkar hal pun sesuai dengan shohibul hal dalam mufrod-mudzakkarnya dan juga terletak setelah kalimat sempurna yaitu fi'il يَشْرَبُ dan fa'il dlomir mustatir (أَنَا). Maka, kata جَالِسًا sah dikatakan sebagai hal karena telah memenuhi kelima syaratnya.
Contoh kedua:
شَاهَدَتْ فَاطِمَةُ السِّيْنَمَا مُهْزِنًا
"Fatimah menyaksikan sinema sambil (sinema itu) membuat sedih"
Kata مُهْزِنًا adalah isim nashab, nakiroh, berupa isim musytaq yang diambil dari أَهْزَنَ يُهْزِنُ, shohibul halnya adalah maf'ul bih; kata السِّيْنَمَا mufrod-mudzakkar hal pun sesuai dengannya, dan terletak setelah kalimat sempurna; fi'il شَاهَدَتْ dan fa'il فَاطِمَةُ. Maka kata مُهْزِنًا sah dikatakan haal karena memenuhi syarat hal yang telah disebutkan.
Contoh ketiga:
مَرَرْتُ بِهِنْدٍ رَاكِبَةً
"Saya telah bertemu Hindun sambil (hindun itu) berkendaraan"
Kata رَاكِبَةً adalah isim nashab, nakiroh, berupa isim musytaq yang diambil dari رَكِبَ يَرْكَبُ, shohibul halnya adalah majruur (yang dijarrkan) oleh huruf بِ; kata هِنْدٌ mufrod-muannats hal pun sesuai dengannya, dan terletak setelah kalimat sempurna; fi'il مَرَّ dan fa'ilnya تُ (dlomir أَنَا). Maka kata رَاكِبَةً sah dikatakan haal karena memenuhi syarat hal yang telah disebutkan
Dari ketiga contoh tersebut, kita bisa simpulkan bahwa; hal bisa menerangkan kondisi fa'il (subjek) ataupun bisa menerangkan maf'ul bih (objek) dan bisa juga menerangkan kondisi majruur (isim yang dijarkan). Contoh pertama adalah haal yang menerangkan keadaan fa'il atau naibul fa'il, contoh kedua menerangkan kondisi maf'ul bih. Sedangkan contoh ketiga menerangkan kondisi isim yang dijarkan oleh huruf.

Adakah bentuk haal selain yang diterangkan?

Ada. Yaitu hal yang berupa jumlah baik ismiyyah (mubtada-khobar) ataupun jumlah fi'liyyah (fi'il-fa'il).
Syarat hal jumlah ismiyah: harus dipisah dengan dlomir sesuai shohibul hal yang terletak setelah wawu haaliyah / wawu al-ibtida. Kaidahnya: الْجُمْلَةُ بَعْدَالْمَعْرِفَةِ حَالٍ (kalimat setelah ma'rifat adalah haal).
Contoh:
جَاءَ زَيْدٌ وَهُوَ نَاوٍ رِحْلَةً
"Zaed datang sambil dia bermaksud bepergian"
Kalimat وَهُوَ نَاوٍ رِحْلَةً adalah jumlah ismiyyah, هُوَ sebagai mubtada, نَاوٍ sebagai khobarnya. Yang terletak setelah wawu haliyah / wawu al-ibtida dan terletak setelah sempurna kalimat جَاءَ زَيْدٌ.
Sedangkan syarat hal dari jumlah fi'liyah tidak perlu ada wawu haaliyah namun tetap harus terdapat dlomir yang sesuai dengan shohibul hal. Kaidahnya: الْجُمْلَةُ بَعْدَالْمَعْرِفَةِ حَالٍ (kalimat setelah ma'rifat adalah haal).
Contoh:
لَقِيَتْنِي فَاطِمَةُ تَتَبَسَّمُ
"Fathimah bertemu denganku sambil tersenyum"
Kalimat تَتَبَسَّمُ adalah jumlah fi'liyyah; fi'il يَتَبَسَّمُ dan fa'il dlomir mustatir (هِيَ). Karena terletak setelah ma'rifat, kalimat tersebut menempati posisi haal, shohibul halnya kata فَاطِمَةُ.

Sekarang kita lihat contoh-contoh hal dalam al-Qur'an:

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُـنَا بَيِّنَاتٍ (يونس: 15)
Penjelasannya:
Pengertian dan Contoh Hal dalam AlQuran
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًامِنهُ... (الجاثية: 13)
يَلْبَسُـونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ (الدخان: 53)
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ... (الملك: 19)
ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْـتُ وَحِيدًا (المدثر: 11)
لِـلطَّاغِينَ مَآبًا () لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (النبأ: 22-23)
كُلُـوا وَاشْرَبُـوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (الطور: 19)
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِـقَ هَلُوعًا (المعارج: 19)
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا... (البينة: 6)
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً... (البقرة: 22)

Contoh hal berupa jumlah ismiyyah dalam al-Qur'an:

قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ... (البقرة: 30)
Ini sesuai dengan kaidah: الجملة بعد المعرفة حال. Karena kalimat وَنَحْنُ نُسَبِّحُ terletak setelah kata الدِّمَاء isim ma'rifat

Contoh hal berupa jumlah fi'liyyah dalam al-Qur'an:

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِـهِمْ يَعْمَهُونَ (البقرة: 15)
وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَـكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ... (البقرة: 49)
وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (عبس: 8)
وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (المدثر: 6)
Shohibul dalam ayat ini dlomir mustatir (أنْتَ) dalam kata تَمْنُنْ
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَـنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ... (الصف: 5)
Masih banyak lagi contoh haal dalam al-Qur'an. Yang penting kita memahami teorinya, baru kita coba untuk mengembangkan dan meneliti suatu redaksi atau ayat al-Qur'an dan Hadits secara khusus terkait masalah haal ini.
Demikianlah pembahasan tentang pengertian hal dan contoh hal dalam al-Qur'an. Semoga bermanfaat bagi semua pembaca untuk memahami ayat-ayat suci al-Qur'an dan Hadits (khususnya). Mohon maaf atas segala kekurangan
Terima kasih
وَالسلام عليكم ورحمة الله
Read More